MUDA BERKARYA

Terdaftar sejak 30 Juni 2015

ASA

 Senin, 22 Februari 2016 11:40  dibaca 626

image

Cita- Cita

'ASA' Karya Nana Sarna - SMA NEGERI 1 CIAWIGEBANG

Cahaya langit mulai menguning di ufuk timur, memakan kegelapan yang melelapkan mata. Kicau burung bersahutan. Saling salam, saling menyapa. Tamparan birunya ombak menerpa karang. Langkah kecilku terhenti sejenak ketika Pak Tun Razak menghampiriku. "Sudah mau berangkat, Bu Ros?", Pak Tun, begitu orang-orang menyapa beliau, bertanya ramah padaku. Aku tersenyum menerima keramahannya. "Hari sudah mulai siang. Saya khawatir anak-anak sedang menunggu". Pak Tun kembali tersenyum padaku. Ia memang pribadi yang dikenal santun, tak lelah ia tersenyum pada siapapun yang dilihatnya. Patutlah jika beliau menjadi kepala di Dusun Gantung ini. "Pastilah sangat melelahkan mengajar anak-anak seorang diri.", ujar Pak Tun kemudian, yang kembali kubalas dengan senyum terlebih dahulu. "Itu tidak sepenuhnya benar, pak. Bagi saya, anak-anak bisa menjadi obat penghilang penat". Namaku Rosmawati. Sebenarnya aku bukanlah orang dari dusun Gantung. Aku hanya menetap sebentar disini. Aku hanya seorang pelancong yang datang untuk menikmati indahnya panorama alam Belitung Timur. Namun ketika aku singgah ke dusun Gantung, kulihat tak sedikit anak yang ikut melaut bersama orang dewasa. Pak Tun adalah orang pertama yang menjawab rasa penasaranku kala itu. Ia berkata memang kebanyakan anak-anak sering ikut melaut bersama orangtuanya. Saat aku singgung mengenai sekolah, ada sorot pilu dari mata sayu Pak Tun. "Dulu ada, sekarang sudah dirobohkan karena kekurangan murid", jawab Pak Tun kala itu. "Jadi, mereka ini tidak sekolah?", tanyaku lirih yang dijawab gelengan Pak Tun. Akhirnya aku memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi di Dusun Gantung. Memperkenalkan anak-anak Dusun Gantung dengan guru yang dipanggil 'ilmu'. Selama menetap disini, aku menumpang di rumah keluarga Pak Tun yang kebetulan seorang Kepala Dusun. Tak banyak yang ingin aku lakukan di Dusun Gantung. Hanya memberikan sebatang lilin di tengah gelapnya ilmu anak-anak Dusun Gantung. Selama dan semampuku. Setidaknya biarkanlah aku untuk menuntun mereka bagaimana cara membaca, menulis dan berhitung. "Ya sudah, pak. Saya pergi ke tempat anak-anak dulu", pamitku pada Pak Tun. "Oh, iya. Silakan, bu", balas Pak Tun. Kami pun mengambil jalan yang berlawanan. Saung panggung berukuran sedang di dekat pohon kelapa adalah tempat dimana biasa aku membimbing anak-anak. Dari kejauhan sudah terdengar gelak tawa penyemangat jiwaku. Tawa yang mampu membuatku ikut tertawa, bahkan sebelum aku mengetahui apa yang mereka tertawakan. Puah, salah satu anak didikku nampaknya menjadi orang pertama yang menyadari kehadiranku. "Eh, Bu Ros sudah datang", ujarnya pada teman sebayannya. Dan sedetik kemudian, kepala-kepala mungil itu menoleh padaku dengan penuh semangat. "Bu Ros!", anak-anak meneriaki kedatanganku dengan girang yang kubalas dengan pelangi terbalik di bibirku. "Selamat pagi, anak-anak", aku menghampiri mereka, kuhitung satu per satu wajah lugu mereka. Ada tujuh. "Eh, Mira tidak datang?", tanyaku pada mereka. Anak-anak serempak menggeleng, lalu Puah menjawab, "Tadi Mira pergi bersama maknya. Tapi entah pergi kemana". Aku tersenyum kecut. Mira adalah anak yang cukup rajin dan pandai. Sangat disayangkan ia tidak bisa hadir hari ini. Walaupun demikian aku harus tetap membimbing ketujuh malaikat kecil ini, meski hanya tersisa tujuh. Mereka adalah Puah si gadis periang, Abu si kritis, Anam si pendiam, Nunuk si gadis cerewet, Bahul si tukang ingus, Nizar si ketua kelas, dan Afan si bungsu. Mereka mampu bertahan sebulan ini tatkala lebih dari setengah dari teman-teman mereka sudah lama tak kemari lagi. Membimbing anak-anak belajar memiliki kepuasan sendiri bagiku. Melihat wajah serius mereka, wajah antusias mereka, hingga wajah frustasi mereka. Ini juga merupakan tantangan sendiri bagiku. Tantangan bagaimana menyampaikan informasi yang dengan mudah diserap anak-anak tanpa membuat mereka jenuh. Beruntung mereka semua haus akan ilmu, tak ada kata jenuh bagi mereka barang sedikitpun. Yang hanya bisa kukatakan adalah mereka memiliki keinginan belajar yang lebih tinggi dibanding anak-anak kota. Barang sesaat Mak Limah tiba tergesa. Ia menengok ke dalam saung, terpaksa kuhentikan sejenak penjelasanku mengenai penjumlahan dalam matematika. "Ada apa, Mak?", tanyaku. Anak-anak ikut menoleh padanya. Mak Limah seakan tak mendengar pertanyaanku menatap Anam dengan garangnya, "Ayo pulang! Bantu mak mengangkat kelapa!", suara Mak Limah meninggi, terdengar seperti memarahi Anam, putranya. Kulihat Anam memelas. "Tapi, Mak, Anam sedang belajar", ucapnya terdengar lirih di telingaku. "Belajar tak akan mengenyangkan perutmu. Ayo pulang!", Mak Limah mencengkram kasar pergelangan tangan Anam dan menariknya dengan paksa. "Mak Limah, biarkan Anam belajar sebentar saja. Dia anak yang pandai", ucapku yang mencoba menahan kepergian keduanya. "Lantas mengapa? Mengapa kalau ia pandai? Kepandaian hanya layak bagi orang-orang ibukota sana. Bagi kami warga pelosok, kerja keraslah yang kami butuhkan. Tanpa itu kami tak bisa makan, tanpa itu kami kelaparan". Aku tersentak mendengar perkataan Mak Limah tadi, seperti ada beban berat yang menghujam langsung pada jantungku. Aku hanya bisa terperanga menanggapinya. Sulit rasanya mengubah pendirian warga Dusun Gantung yang telah melekat dalam diri mereka selama bertahun-tahun. Pun demikian, Aku tak bisa menyalahkan mereka atas ini, toh ini sepenuhnya bukan kesalahan mereka. Sebuah penyakit tengah menggerogoti negeri ini. Penyakit yang takkan mampu disembuhkan oleh dokter manapun. Kukira dengan lengsernya tahta kepemimpinan Pak Harto dapat menyembuhkan penyakit ini. Namun nyatanya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Krisis masih berlanjut, invasi enggan turun, harga barang terus melambung. Penyakit inilah yang merenggut segalanya dari tangan bangsa yang baru merdeka ini. Merenggut moral bangsa, merenggut demokrasi bangsa. Alasan ini membuat orangtua di daerah mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah. Seperti kata Mak Limah tadi, ‘belajar tak akan mengenyangkan perutmu’. Anam pergi meninggalkan saung dan teman-temannya. Anak-anak membisu menyaksikan kejadian tadi. Isak terdengar samar kutangkap, kutengok anak-anak dan kulihat Afan menangis. Air itu dengan lembutnya mengalir melewati pipi dan dagunya. Bergegas kuhampiri Afan, kuusap lembut pipinya dan kuseka air mata si bungsu ini. "Afan, kenapa engkau menangis?", ucapku lembut. Afan tersedu, dengan kedua tangannya ia menyeka kasar airmatanya, malu kurasa. "Aku takut Mak melakukan hal serupa padaku", ucap Afan tersedu disela isakannya. Segera ku dekap tubuhnya dan kuusap lembut surai hitamnya. "Jangan risau, Bu Ros ada di sini", hiburku. Sang surya kokoh di atas kepala, panas menyengat dirasa. Kelas telah usai beberapa waktu lalu, anak-anak pun telah pulang ke rumah. Di bawah naungan pohon kelapa yang menghalau sengatan sang surya, aku duduk bersantai menghilangkan penat, seraya memandang lautan luas khas Belitung Timur. Tak sengaja manikku menangkap Mira yang tengah berjalan membawa ikan yang telah diikat oleh tali rotan. "Mira. Duduk kemari sebentar" panggilku. "Habis dari mana?", tanyaku setelah Mira duduk di sampingku. "Habis bantu mak jualan ikan di pasar", jawabnya singkat. Saat kucoba menatap wajahnya, Mira selalu saja menghindarinya. "Tadi teman-temanmu menanyakan, katanya kelas nampak sepi tanpa Mira", kataku lagi. "Ehehe...", kulihat Mira tersenyum malu, senyum yang kuharap bisa kulihat lebih lama lagi. "Esok mau ke saung?", tanyaku kemudian. Senyum Mira tertahan, lalu perlahan menghilang. Apa yang barusan kulakukan? Apa aku berbuat sesuatu yang membuatnya terluka? Rasa penasaranku bertambah saat Mira menjawab pertanyaanku dengan gelengan kepala. Kutanyai lagi kenapa ia tidak mau ke saung lagi. "Mak melarang. Katanya buang-buang waktu. Mak bilang pendidikan untuk perempuan itu tak berguna, pada akhirnya takdir perempuan akan di dapur juga", jawab Mira lirih. Aku menggenggam erat tangannya yang kecoklatan, kuharap aku bisa memberinya sedikit kekuatan dan ketabahan hati. "Mira tahu itu tidak benar, bukan?", ucapku meyakinkan Mira namun ia bergeming. "Kartini tidak melakukan hal yang sia-sia, dan engkau mewarisi semangatnya. Bu Ros yakin suatu saat nanti akan datang hari dimana wanita akan dipandang sama dengan lelaki. Dan kau, Mira, jagalah agar api harapanmu selalu menyala. Ibu percaya suatu saat nanti itu akan menuntunmu ke jalan yang engkau inginkan". Mira tersenyum, aku lega melihat itu kembali muncul. Aku mengusap pelan surai hitam tak terikatnya, dan kubalas senyumnya. Mira bertanya padaku, "Menurut ibu layakkah aku memiliki impian? Bisakah aku menggapainya?". Aku tersenyum lalu menjawab, "Jika engkau tidur sekarang, kau akan bermimpi. Tetapi jika engkau belajar sekarang, kau akan mencapai impianmu. Semua mimpi itu sama. Tidak ada mimpi yang terlalu besar dan tidak ada mimpi yang terlalu kecil. Jika kau bisa memimpikannya, kau pasti bisa meraihnya". Mira kembali tersenyum mendengar perkataanku. Aku pun berharap perkataanku dapat membuatnya kembali bersemangat dalam mengejar impiannya. Ia kemudian berdiri dan pamit untuk pulang. Aku memanggilnya lagi sebelum ia benar-benar pergi, "Mira, lebih baik menjadi seekor singa selama satu hari daripada harus menjadi seekor domba selama seribu tahun", ujarku. Mira tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih kekuningan dan berlalu meninggalkanku. Hari telah berlalu lama sejak pertama aku menapakkan kaki di dusun ini. Ada perasaan tak tenang yang setiap saat berkecamuk dalam hatiku. Apa yang akan terjadi dengan anak-anak setelah aku pergi? Siapa yang akan membimbing mereka dari kelamnya kehidupan? Masih banyak hal yang ingin aku bagikan kepada mereka, kepada tunas-tunas bangsa yang terbengkalai ini. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka hadapi di depan jika aku pergi meninggalkan mereka. Dan hal itu terjawab pagi ini. Aku mendapat panggilan dari kota agar segera kembali, keluargaku pun meminta demikian karena aku sudah terlalu lama berada disini. Esoknya Pak Tun menemani perjalananku menuju dermaga. Tiap langkah kakiku terasa berat untuk pergi ke sana. Pak Tun menepuk pundakku dari belakang dan memintaku untuk tidak merisaukan soal anak-anak. Ah, aku bahkan belum berpamitan dengan mereka. Yang bisa kulakukan hanyalah menitipkan salam perpisahan untuk mereka pada Pak Tun. Tak sanggup rasanya harus melihat anak-anak meneteskan air mata mereka yang berharga. Aku ingin tinggal lebih lama lagi disini, namun aku juga memiliki kewajiban lain di luar sana. Sebuah kapal besar terapung di hadapanku. Kaki mulai kulangkahkan menaiki kendaraan laut ini untuk pulang. "Bu Ros!", seseorang meneriaki namaku. Aku berbalik dan menoleh pada sang sumber suara. Aku dibuat terkejut manakala melihat sang pemilik suara itu. Itu si bungsu Afan. Ia kemari bersama Anam, Puah, Abu, Nunuk, Bahul, Nizar, dan Mira. Dan coba tebak, orangtua mereka pun datang bersama mereka. Aku sama sekali tak mengerti apa gerangan yang terjadi saat ini. "Ibu tidak boleh pergi tanpa berpamitan dengan kami", kata Afan setengah berteriak karena jarak kami yang cukup jauh. "Setidaknya biarkan kami mengucapkan terimakasih padamu, Bu Ros", kini Nizar ikut buka suara. Anak-anak, tidakkah kalian mengerti bahwa semakin lama aku melihat kalian, semakin sulit bagiku untuk meninggalkan kalian. Mak Limah perlahan menghampiriku, sesisir pisang yang ia pegang diberikannya padaku. "Tidak banyak, tapi kuharap itu cukup untuk mengganjal perut selama di perjalanan". Aku menerimanya dengan keheranan. Tak hanya Mak Limah, orangtua anak-anak pun memberiku banyak buah-buahan dan berbagai makanan. "Ini, apa?" Hanya kata itu yang bisa menggambarkan rasa ketidak mengertianku saat ini. Kulihat Mak Limah tersenyum, "Maaf untuk yang kemarin, dan terimakasih telah mengajari anak-anak kami sampai sejauh ini". Aku tersenyum senang mendengarnya, apa ini artinya akhirnya mereka mengizinkan anak-anak untuk menuntut ilmu. "Apa yang telah engkau ajarkan pada anak-anak kami ternyata sangat membantu. Dengan belajar padamu, Mira bisa menghitung dan kami tidak ditipu oleh orang-orang di pasar", ujar Mak Mira yang juga tersenyum padaku. "Janganlah bicara seperti itu. Ini semua berkat hasrat anak-anak yang haus akan ilmu", balasku apa adanya. Nizar maju selangkah, nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu padaku. Dengan setengah berteriak ia berkata, "Bu Ros. Aku ingin menjadi seorang admiral. Tidak, suatu saat nanti aku pasti akan menjadi seorang admiral angkatan laut yang hebat". Nunuk pun ikut melangkah dan berkata, "Aku pasti akan menjadi seorang sastrawati dan aku akan menulis tentang Dusun Gantung dan Bu Ros. Ibu harus membacanya nanti". Aku tersentuh akan tekad anak-anak. Mataku terasa memanas, lembab terasa di pelupuk namun harus kutahan. Tidak, tidak boleh ada air mata disini. Masih kupandangi bara api yang terlihat jelas dalam sorot mata anak-anak. Sorot itu, keyakinan itu telah menancap di dada mereka. Kini Abu yang melangkah dan mulai berteriak, "Aku akan menjadi pengusaha sukses di Dusun Gantung dan di seluruh Belitung Timur". "Aku akan menjadi guru seperti ibu. Aku akan mengajari anak-anak Dusun Guntur seperti yang telah ibu ajarkan pada kami", sambung Puah kemudian. "Aku akan menjadi perwira polisi", lanjut Bahul. Sementara Anam melangkah dengan mantap dan berkata, "Aku akan menjadi seorang presiden". Kulihat si bungsu Afan ragu dalam melangkah, terlihat cemas, atau malu. " Bu Ros, aku, aku tidak tahu apa yang aku inginkan saat ini. Tapi, suatu hari nanti aku akan menemukannya dan meraihnya", ucapnya dengan nada yang lebih pelan dan agak terbata. Hanya Mira yang belum mengatakan cita-citanya. Ia memberiku senyuman lembutnya. "Bu Ros, aku akan menjadi Kartini yang ketiga. Karena bagiku, Bu Ros adalah Kartini kedua yang memberi kami cahaya harapan". Tetesan air mata tak terasa mengalir dari pelupuk mataku. Semakin lama kutahan, semakin pedih kurasa. Segera kuberpaling dari tatapan anak-anak dan lekas kuseka ia, walau kupikir anak-anak pasti sudah melihatnya. Ku pandang kembali benih-benih penerus bangsa yang mulai tumbuh ini, nasib bangsa berada pada pundak mungil anak-anak ini. Aku tak tahu harus mengatakan apa kepada mereka, yang bisa kusampaikan pada mereka hanya, "Berharaplah, jangan pernah takut pada harapan. Dan bahkan jika harapan kalian tidak terwujud sekalipun, setidaknya harapan itu sudah membuat jantung kalian berdetak sedikit lebih kencang, kaki kalian berlari sedikit lebih jauh, bibir kalian tersenyum sedikit lebih lama, dan kalian bernafas untuk hidup yang kalian yakini lebih berharga". Ucapku dengan suara yang bergetar. Perkataan kuakhiri, tungkai mulai kuangkat, jejak langkah yang kutinggal. Nyaring bunyi kapal seolah mengajakku untuk bergegas. Salam perpisahan telah terucap, setidaknya hatiku bisa sedikit lebih lega. Kutinggalkan mereka di dermaga. Kapal melaju perlahan meninggalkan Dusun Gantung yang akan selalu kurindukan. Anak-anak berlarian , menyamakan langkah kecil mereka dengan arah laju kapal seraya meneriaki namaku. "Bu Ros, kami tidak akan menangis! Akan kami simpan air mata ini sampai kami bisa menjadi orang sukses! Bahkan Afan pun tidak menangis", teriak Nizar padaku. Kuberikan senyum pada mereka, senyum yang takkan bisa mereka lihat lagi, senyum terakhirku untuk mereka. Bersama-sama mereka berteriak padaku, "Terimakasih, Bu Ros!" SELESAI


Memuat Komentar...