Diding Karyadi

Terdaftar sejak 25 November 2014

Cinta Mi Kuah dan Telur Dadar

 Jumat, 18 Desember 2015 14:41  dibaca 462

Cinta Mi Kuah dan Telur Dadar

 Cerpen Diding Adut

 

 

 Ani diam, berharap lelaki yang setengah jam lalu telah berani terang-terangan melamarnya itu memberi kejutan. Meski ia sendiri tak begitu yakin akan ada lagi kejutan, mengingat sudah terlalu banyak hal yang menurutnya aneh dikatakan Syahrudin kepadanya sepanjang hari itu.

Termasuk lamaran lelaki itu kepadanya. Bagaimana mungkin? Mereka berdua baru saja lulus SMA dan harus meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Okelah Syahrudin tidak kuliah karena menurut pengakuannya ia anak orang sangat miskin, yang takkan punya biaya untuk kuliah, meski pun berhasil diterima di perguruan tinggi negeri favorit tanpa tes. Tapi dia ‘kan perlu bekerja. Dia pikir gampang cari kerja. Dengan modal ijasah SMA , mau kerja apa?

“Sebungkus mi instan itu kami masak dengan air yang banyak. Sangat banyak, agar bisa dimakan oleh kami anak-anak berenam, ditambah dua orang tua kami. Supaya rasanya tidak tawar, kami tambahi garam yang banyak, dan kalau kebetulan ada dilengkapi bawang rajang. Dimasaknya agak lama supaya mi mengembang dan volumenya membesar,” Syahrudin bercerita dengan penuh ekspresi. Sengaja ia jeda sejenak, berharap mendapatkan perhatian lebih dari Ani.

“Itulah menu favorit kami, yang hanya bisa kami nikmati ketika Bapak ada rejeki lebih. Kalau hari-hari biasa, kami cukup makan nasi dengan lauk terasi bakar dicampur sedikit bawang goreng. Rasanya gurih. Tapi kalau kebanyakan terasinya, misalnya kalau harga bawang sedang meroket, rasanya agak getir juga. Timbulnya mual,” lanjut Syahrudin.

Ani tertegun. Ia hanya diam mendengarkan sambil menatap lekat-lekat wajah Syahrudin. Rupanya ia belum terlalu percaya pada apa yang baru saja dikatakan teman sekelasnya itu. Meskipun setelah bertahun-tahun kenal dengannya, ia tahu Syahrudin bukanlah tipe lelaki pembual, apalagi tukang bohong. Sebaliknya, sepengetahuannya Syahrudin adalah satu dari sedikit lelaki jujur di dunia ini. Bahkan Syahrudin senantiasa menjunjung tinggi kejujuran di atas segalanya.

“Dan kalau kau mau tahu tentang telur dadar kami, itu sangat spesial, tak ada duanya. Sebutir telur ayam kampung yang kami ambil langsung dari sarang satu-satunya babon yang kami miliki, diaduk dengan parut kelapa. Takaran parut kelapanya jauh lebih banyak dibandingkan telurnya, supaya ketika sudah digoreng bisa dibagi menjadi delapan kerat, cukup untuk lauk makan sekeluarga. Ketika dimakan yang menonjol justru rasa kelapanya. Telurnya sendiri hanya berfungsi untuk merekatkan parut kelapa agar tidak buyar ketika digoreng. Malah yang tertinggal dari telur itu hanya aromanya.”

“Kalau tak ada kelapa,” Syahrudin melanjutkan. “Kami cukup menggantinya dengan singkong parut. Rasanya tentu beda, kelapa lebih gurih dan singkong agak kasar. Tetapi itu bukan soal. Dicampur kelapa parut atau singkong parut, tetap saja kami menamakannya telur dadar spesial,” katanya.

Syahrudin melihat mendung mulai menggayut di wajah Ani. Tatapannya sendu, entah karena iba atau terharu. Atau mungkin kedua-duanya. Ia jadi merasa bersalah telah merusak suasana cerah-ceria menjadi kelabu. Segera ia berusaha memperbaikinya dengan mencoba mencairkan suasana.

“Yang kasihan ayam babon kami. Dia tidak pernah bisa mengerami banyak telur seperti ayam-ayam lain. Dari 10 butir yang ia telurkan dalam semusim, paling banyak hanya tiga atau empat butir saja yang ia erami untuk kemudian ia tetaskan. Sebagian lainnya kami ambil satu per satu untuk membuat telur dadar spesial. Makanya ayam kami sangat agresif ketika mengasuh anak-anaknya. Aku dan adik-adikku seringkali kena bintih. Mungkin pikirnya kami adalah sekumpulan penjahat perusak keturunan dia,” kata Syahrudin sambil cengar-cengir, mencoba melucu.

Ani hampir tertawa meski kemudian ia segera menyembunyikannya. Senyumnya menyiratkan kelu, tak mampu mengusir getir yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya. Kelopak matanya terasa panas. Lelaki aneh, pikirnya. Dia tak malu menceritakan kemiskinan keluarganya, bahkan dengan bangga pula.

“Tapi otak kamu kok bisa encer?” Kata Ani, sekadar bertanya. “Maksudku, dengan asupan gizi yang seperti itu, kecerdasanmu tetap tak terkalahkan, luar biasa,” lanjutnya.

“Siapa bilang gizi menentukan kecerdasan otak? Teori itu tak punya bukti mutlak. Berapa banyak anak orang kaya yang kedodoran mengikuti pelajaran bahkan terpaksa harus tinggal kelas? Tapi lihatlah begitu banyak anak orang miskin yang menjadi rangking I di sekolahnya. Kukira itu salah satu rahasia Tuhan,” jawab Syahrudin.

Sepasang muda-mudi itu terdiam. Sepertinya mereka kehabisan kata-kata. Bising mesin kendaraan dan ramai orang yang datang ke kedai bakso tempat mereka mengobrol, seolah tak mampu memecah kebisuan di antara keduanya.

“Lalu, kenapa kamu berani melamarku untuk menjadi istrimu? Hari ini pula. Pada saat kita sama-sama baru lulus SMA? Ketika kita sama-sama belum tahu akan menjadi apa kita di masa datang?” Ani memecah kebuntuan.

“Aku memang melamarmu hari ini, tapi bukan untuk kunikahi sekarang. Ini proyek masa depan. Kelak, ketika aku dan kamu sudah siap, aku akan membawamu ke pelaminan. Modalku satu. Aku yakin seyakin-yakinnya di masa datang aku bukan lagi orang miskin. Jadi nanti aku tak harus minder lagi berhadapan dengan bapakmu yang pejabat dan ibumu yang pengusaha itu. Kau harus yakin itu,” jawab Syahrudin bersemangat.

“Aku akan cari kerja apa saja secepatnya. Kalau sudah cukup uang aku akan kuliah dan setelah lulus akan cari kerja yang lebih terhormat. Mungkin kau akan lebih dulu sarjana dibanding aku. Tapi aku yakin kau bisa menunggu. Usiamu takkan terlalu tua untuk menikah, bila harus menunggu beberapa tahun setelah lulus kuliah,” lanjutnya.

“Aneh. Maksudku, berpacaran pun kita belum. Tiba-tiba kamu melamarku,” Ani bingung.

“Itu karena kau terlalu banyak nonton film Hollywood. Itu budaya mereka. Guru ngajiku malah melarang pacaran. Budaya kita sebenarnya tak seperti orang bule. Kedua orang tuaku tak berpacaran tapi keluarga kami langgeng. Kukira ayah-ibumu juga tak beda. Orang tua dulu tak mengizinkan anaknya berpacaran seperti anak-anak zaman sekarang.”

“Kamu kuno.”

“Aku lebih suka disebut konvensional.”

“Kita hidup di zaman modern.”

“Bukan berarti harus membebek, meniru apapun yang datang dari Barat.”

“Susah ngomong sama kamu.”

“Pastinya. Aku ‘kan rangking I, kamu cuma rangking II.”

“Sialan!”

Tawa mereka pecah, mengusik dan mengejutkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Pemilik kedai bakso mulai mrengut melihat sepasang muda-mudi berjam-jam menguasai salah satu meja, padahal jajannya cuma dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh tawar.

“Jadi kau terima lamaranku?” Tanya Syahrudin.

“Entahlah, aku bingung,” jawab Ani.

“Jawablah! Aku bisa terima jawaban terburuk sekali pun. Toh kita berteman sudah cukup lama,” Syahrudin mendesak.

“Takkan kujawab sekarang,” kata Ani lirih, seraya menatap tajam mata Syahrudin, menebak-nebak perasaan pemuda itu.

“Lalu, kapan?”

“Nanti kalau saatnya tiba. Kalau aku sudah siap.”

“Tak ada waktu lagi, ‘kan? Besok kau berangkat ke Jakarta. Aku entah ke mana, cari kerja, cari duit.”

“Aku pastikan pada pertemuan pertama kita setelah hari ini.”

“Baiklah.”

**

SURAT elektronik itu sudah puluhan kali Syahrudin baca. Berulang-ulang ia baca, sampai ia hapal semua kata yang tertera di dalamnya. Bahkan sampai ke titik koma.

Kepada Syahrudin, orang miskin tapi pemberani (julukan itu dulu selalu kau bangga-banggakan).

Aku dapatkan alamat email perusahaanmu setelah aku bertemu dengan Anton, teman sekelas kita dulu. Sayang, dia tak tahu alamat email pribadimu. Jadi harap maklum bila aku hanya menulis surat singkat dan cenderung lebih umum isinya. Aku khawatir orang-orang se-kantor akan menertawakanmu bila aku menulis hal-hal yang terlalu pribadi tentang kita.

Aku sudah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana tiga tahun lalu dan kini bekerja di sebuah perusahaan multinasional. Aku dengar kamu juga sudah sarjana ya? Malah katanya kau sudah punya perusahaan yang berkembang pesat. Selamat, doamu terkabul dan cita-citamu tercapai.

Sejak pertemuan terakhir kita tujuh tahun lalu, diam-diam aku mulai belajar memasak mi kuah dan telur dadar kesukaanmu. Tak ada orang lain di rumahku yang mau menyantap bahkan sekadar mencicipinya. Aku sendiri hanya mampu menghabiskan satu dari delapan porsi mi kuah dan telur dadar spesial itu.

Mula-mula rasanya aneh. Tapi lama kelamaan aku mulai menyukainya, bahkan sejak smester kelima aku mulai menjadikannya masakan favorit. Hampir setiap akhir pekan aku memasak dan menikmatinya sendirian sambil membayangkan kau hadir di hadapanku. Sungguh ajaib. Menu spesial itu selalu dapat membawaku ke alam mimpi nan indah tentang masa-masa indah kita di sekolah dulu, dan dahagu tentangmu selalu terpuaskan hanya dengan itu.

Tetapi setelah aku bertemu Anton yang banyak bercerita tentangmu, semuanya menjadi berubah. Cita rasa mi kuah dan telur dadar yang aku masak menjadi sedikit hambar dan serasa ada yang kurang. Dahagaku tentangmu juga tak terpuaskan hanya dengan bermimpi dan membayangkanmu. Belakangan aku sadari hal itu karena aku terlalu berharap dapat menikmati menu khusus itu bersama dirimu. Tetapi adakah kau masih Syahrudin yang dulu, orang miskin yang berani melamar anak pejabat hanya dengan bermodalkan keyakinan akan menjadi orang sukses di masa depan?

Syahrudin, orang miskin yang selalu rangking I.

Kini kerinduanku padamu sudah sampai pada puncaknya. Aku ingin menikmati mi kuah dan telur dadar spesial itu berdua denganmu. Tidak makan sendirian seperti tujuh tahun terakhir ini. Datanglah ke Jakarta. Akan kujawab lamaranmu.

Perempuan yang berani menunggu

Ani

***


Memuat Komentar...